BAB V

KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN PENELITIAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.

1. Peran kepala sekolah sebagai supervisor dalam membina kompetensi profesional guru di SMP Negeri se Kecamatan Salaman secara keseluruhan cenderung rendah. Peran kepala sekolah sebagai supervisor dalam hal membantu merencanakan proses pembelajaran, membantu melaksanakan proses pembelajaran, dan membantu mengevaluasi proses pembelajaran cenderung rendah, sedangkan peran kepala sekolah sebagai supervisor dalam hal memberi dorongan kepada guru dalam bekerja, dan mengikutsertakan guru dalam kegiatan yang menunjang peningkatan kompetensi profesionalnya cenderung tinggi.

2. Kompetensi profesional guru di SMP Negeri se Kecamatan Salaman secara keseluruhan cenderung rendah. Kompetensi profesional guru dalam hal kemampuan memahami landasan kependidikan, kemampuan merencanakan proses pembelajaran, dan kemampuan melaksanakan proses pembelajaran cenderung rendah, sedangkan untuk kemampuan mengevaluasi proses pembelajaran cenderung tinggi.

3. Koefisian korelasi antara peran kepala sekolah sebagai supervisor dengan kompetensi pofesional guru diperoleh sebesar 0,506. Kontribusi peran kepala sekolah sebagai supervisor terhadap kompetensi profesional guru sebesar 25,6%, sedangkan 74,4% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini seperti tingkat pendidikan.

B. Implikasi

Berdasarkan kesimpulan tersebut dapat ditarik implikasi sebagai berikut.

1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran kepala sekolah sebagai supervisor dalam membina kompetensi profesional guru cenderung rendah. Dengan demikian kepala sekolah perlu menyadari dan segera membuat tindak lanjut untuk meningkatkan perannya sebagai supervisor melalui keterlibatan secara aktif dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru, seperti melalui bimbingan, bantuan dan layanan terhadap hambatan dari setiap guru, memberi dorongan terhadap guru dalam bekerja melalui rapat-rapat di sekolah maupun acara formal dan non formal lainnya, serta member kesempatan kepada guru untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

2. Kompetensi profesional guru cenderung rendah. Dengan demikian setiap guru perlu mempelajari kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya, membaca referensi-referensi untuk meningkatkan kemampuannya dalam mengelola porses pembelajaran, mengikuti seminar-seminar, penataran, MGMP dan kegiatan lainnya, dan tidak segan untuk bertanya dan berdiskusi dengan kepala sekolah maupun dengan teman sejawat.

C. Saran

Berdasarkan kesimpulan penelitian tersebut dapat diajukan saran sebagai berikut.

1. Peran kepala sekolah sebagai supervisor dalam membantu merencanakan proses pembelajaran perlu ditingkatkan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberi pengarahan kepada guru dalam menyusun silabus pembelajaran dan rencana pembelajaran melalui rapat-rapat di sekolah atau melalui program supervisi yang terencana.

2. Peran kepala sekolah sebagai supervisor dalam membantu melaksanakan proses pembelajaran perlu ditingkatkan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara observasi kelas dalam rangka membina kemampuan guru dalam mengajar.

3. Peran kepala sekolah sebagai supervisor dalam membantu mengevaluasi proses pembelajaran perlu ditingkatkan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak guru berdiskusi tentang bagaimana menyusun dan menerapkan teknik-teknik evaluasi pembelajaran. Selain itu kepala sekolah perlu melibatkan diri dalam kegiatan evaluasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

4. Guru hendaknya berupaya secara terus-menerus untuk meningkatkan kompetensi profesionalnya khususnya dalam hal kemampuan memahami landasan kependidikan, kemampuan dalam merencanakan proses pembela-jaran dan kemampuan melaksanakan proses pembelajaran yang masih cenderung rendah. Upaya untuk meningkatkan kemempuan dalam memahami landasan kependidikan dapat dilakukan dengan cara membaca buku, majalah, dan artikel-artikel yang terkait dengan dunia pendidikan. Untuk meningkatkan kemampuan dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran guru dapat melakukan action research mata pelajaran dan kelas yang diampu, berdiskusi dengan kepala sekolah atau dengan teman sejawat, mengikuti seminar-seminar, penataran, dan pendidikan lanjutan.

D. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini sudah diusahakan dengan sebaik-baiknya agar mendapat hasil yang maksimal, namun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam penelitian ini masih ada keterbatasan. Keterbatasan tersebut yaitu ketika melakukan uji instrumen dan pengambilan data penelitian, ada sebagian guru yang tidak bisa mengisi angket yang telah diberikan. Hal ini disebabkan guru tersebut ada yang mengikuti penataran dan sertifikasi, jadwal mengajar yang hanya seminggu sekali untuk guru honorer, dan ada guru yang sudah meninggal dunia, sehingga guru tersebut diganti dengan guru lain yang belum dikutsertakan dalam daftar uji instrumen maupun pengambilan data penelitian yang sudah ditentukan.