Seiring berjalannya waktu, maka kebudayaan pun semakin bertambah banyak. Tetapi celakanya budaya yang baik, budaya local berganti menjadi budaya barat yang ternya sangat tidak pas untuk diterapkan di tanah Indonesia ini.

Ya, tahun baru segera tiba, tinggal menunggu bebrapa hari saja. Budaya perayaan tahun baru memang sering dilakukan oleh remaja saat ini. Mungkin tidak hanya pada remaja saja, tapi seluruh aspek masyarakat mulai dari media televisi, surat kabar semuanya meliput berita tentang tahun baru. Banyak yang berkunjung ketempat wisata sebagai bentuk sebuah perayaan tahun baru. Tetapi, Hem….ternyata sebagian besar remaja mengajak para cewek/cowok mereka. ya kalau yang saya dengar berdua-duan ditempat sepi namanya berkhalawat: dimana dua orang yang bukan muhrim berduaan ditempat sepi maka yang ke tiga adalah yang membaca….eh syaithon jelas ketika setan disekitar kita maka tentu saja perilaku berdosa yang ia bisikkan.

So jauhi syaitan, bukan orangnya. Gimana caranya:’ semua yang ada di dunia ini adalah nikmat dan cobaan” silahkan berfikir.

Kalau kita melihat penanggalan sebenarnya tahun baru tanggal 1 januari / 1 masehi bukanlah penanggalan yang ada dalam agama islam. Tahun baru bagi agama islam adalah tanggal 1 muharram/1 syura. Sebagai orang yang beragama islam maka ketika malam pergantian tahun tersebut disunatkan untuk membaca doa akhir tahun kemudian doa awal tahun.

Tetapi yang ada saat ini mereka lebih “mengenal” tahun baru masehi dari pada tahun baru hijriyah. Memang tidak ada salahnya perayaan tersebut, hanya saja kalau perayaannya denga cara mabuk-mabukan, ataupun kegiatan maksiat lainnya. Apa salahnya kalau kita berdiam diri saja dirumah.

Tulisan ini bukan sebuah diskriminasi, hanya sekedar sebuah argumen dan pengingat kepada sang khaliq .