idul fitri, kembali kepada yang bersih dan suci. bagaimana kita bisa dikatakan bersih, besih secara lahir dan secara batin. sebelum tiba hari raya kita memang sudah melaksanakan tirakat selama  satu bulan berpuasa. yaitu menahan hawa nafsu, menahan lapar dan dahaga, serta dengan ditambah ibadah yang lain seperti tadarusan. akhirnya sampailah kita pada hari yang fitri.

suci berarti kita harus meminta maaf kepada saudara, teman, dan tetangga kita. tidak berarti dengan meminta maaf kita sudah bersih dari kesalahan yang sudah dilakukan. tetapi kita katakan dulu apa salah kita baru orang tersebut memaafkan dan kitapun dinyatakan halal. misalnya:

“pak saya mohon maaf lahir dan batin, dulu saya pernah mengambil uang bapak tidak minta ijin. semoga bapak memaafkan kesalahan saya”

dan bapakpun menjawab:”ya saya maafkan, saya doakan apa yang menjadi cita-cita kamu bisa tercapai”

Amin….

begitulah,.

banyak penafsiran berbeda-beda antara satu orang dengan orang yang lain:

  1. Orang jawa mengatakan “bodho”. berasal dari kata ba’da yang artinya setelah, sesudah. yaitu sesudah kita berpuasa selama satu bulan maka kita merayakan kemenangan. “bodho”, atau aboting odho-odho. yaitu banyak orang yang sibuk mempersiapkan segalanya: makanan, pakaian, uang dsb untuk keperluan hari raya. saking sibuknya kadanh malah banyak orang tidak berpuasa. inilah, bahwa mempersiapkan hari raya menjadi sesuatu yang berat, khususnya bagi orang miskin.
  2. Riyaya, berasal dari kata ‘raya’,’merayakan’,’perayaan’. seharusnya ini digunakan untuk hari-hari seperti hari kemerdekaan, hari ulang tahun dsb. orang mengatakan”sugeng ariyadi”/”sugeng riyadin”. artinya selamat merayakan. belum menunjukkan adanya permintaan maaf akan sebuah kesalahan.

sekali lagi, minal ‘aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.